Tekan Inflasi, Pemkab Minut Gelar Gerakan KORPRI Menanam Cabai

Minut675 Dilihat

Global1news.com, MINUT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa Utara (Minut) memperkuat upaya pengendalian inflasi melalui Gerakan KORPRI Menanam dengan mengembangkan budidaya cabai.

Gerakan ini dipimpin Sekretaris Daerah Minut, Ir. Novly Wowiling, bersama kepala OPD dan para Camat se-Kabupaten Minahasa Utara, digelar di Jalan Ir. Soekarno, tepatnya di samping Rumah Kopi R2K, Selasa (13/10/2026).

Sekda Wowiling menjelaskan, kegiatan ini merupakan respons nyata pemerintah terhadap persoalan masyarakat, terutama kenaikan harga cabai yang berdampak pada kebutuhan rumah tangga.

Gerakan ini juga adalah tindak lanjut arahan Bupati Joune Ganda dan Wakil Bupati Kevin William Lotulung agar pemerintah tidak hanya melakukan penanganan, tetapi menghadirkan tindakan konkret.

“KORPRI sebagai bagian dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara merasa terpanggil untuk ikut mengambil bagian dalam menjawab persoalan masyarakat, khususnya terkait kenaikan harga cabai. Ini juga merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Bupati dan Wakil Bupati agar ada tindakan nyata,” ujar Sekda Wowiling.

Pengembangan kebun cabai KORPRI dilakukan melalui kolaborasi bersama petani dengan pola kerja sama saling menguntungkan, tujuannya meningkatkan produksi cabai lokal untuk memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat Minut.

Dalam program awal ini, sekitar 4.000 hingga 5.000 pohon cabai telah ditanam, dengan proyeksi minimal satu kilogram cabai per pohon, kebun tersebut berpotensi menghasilkan 4.000 sampai 5.000 kilogram atau 4-5 ton cabai.

“Kita mencanangkan penanaman ini dengan konsep anti gagal. Standar budidayanya harus tinggi dan seluruh upaya pemeliharaan diarahkan untuk menjaga agar target produksi bisa tercapai. Kita mengejar produksi yang memang dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Sekda mengakui angka inflasi di Minut saat ini perlu menjadi perhatian serius, untuk itu pengendalian inflasi harus dilakukan terpadu, melalui peningkatan produksi dan intervensi langsung di pasar.

Gerakan KORPRI Menanam merupakan intervensi dari sisi hulu atau produksi. Sementara di sisi hilir, pemerintah juga telah melakukan penjualan komoditas di bawah harga pasar, seperti yang dilaksanakan Sabtu sebelumnya di Pasar Airmadidi.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Harga cabai yang sebelumnya Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram turun menjadi sekitar Rp110.000 per kilogram.

“Puji Tuhan, kita sudah berhasil menurunkan harga, sekalipun penurunannya masih relatif. Dari kisaran Rp130.000 sampai Rp140.000 per kilogram, kemarin kita mendapat informasi harganya sudah Rp110.000 per kilogram. Ini menunjukkan intervensi perlu terus dilakukan,” ucap Sekda Novly Wowiling.

Pemerintah akan melanjutkan intervensi pasar secara berkelanjutan, sebagai antisipasi menghadapi peningkatan kebutuhan menjelang Natal dan Tahun Baru Desember mendatang, serta persiapan menghadapi tren kebutuhan pangan 2027 termasuk menjelang Idul Fitri.

Sekda juga menegaskan gerakan ini tidak boleh berhenti di satu lokasi, dan mendorong para Camat menjadikan program ini pola yang diterapkan di wilayah masing-masing, kemudian dikembangkan hingga ke tingkat desa.

“Kita mengikuti hukum ekonomi. Ketika produksi meningkat, harga diharapkan bisa terkoreksi. Yang penting, produksi harus mampu berada di atas kebutuhan masyarakat yang ada di Kabupaten Minahasa Utara,” tuturnya.

Ia juga menekankan kestabilan produksi harus dijaga karena musim kemarau saat ini turut memengaruhi produksi dan menyebabkan pasokan cabai menurun, untuk itu pemerintah berupaya memulihkan produksi melalui kombinasi intervensi pasar dan penguatan budidaya.

“Bagi masyarakat Minahasa Utara, makan tanpa cabai rasanya belum lengkap. Karena itu, melalui gerakan ini kita ingin membantu memenuhi kebutuhan tersebut dengan menjaga ketersediaan dan kestabilan produksi,” ujarnya.

Untuk tahap berikutnya, Pemkab Minut menyiapkan tambahan sekitar 5.000 pohon cabai berbasis polybag.

Pengembangan ini diharapkan memperkuat kapasitas produksi dan mendukung pemenuhan kebutuhan pasar.

Terkait komoditas lain, Sekda menyatakan program akan dimulai dengan cabai terlebih dahulu.

Dengan target awal 4.000-5.000 pohon dan rencana penambahan 5.000 pohon polybag, gerakan ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan cabai lokal, menekan gejolak harga, dan mendukung pengendalian inflasi, sekaligus menjadi contoh bagi kecamatan dan desa untuk mengembangkan budidaya cabai secara mandiri.

(Ekin)