PROWM dan Disdag Minut Bahas Pengendalian Inflasi, Harga Rica Jadi Sorotan

Minut728 Dilihat

Global1news.com, MINUT – Profesional Wartawan Minahasa Utara (PROWM) bersama Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Drs. Maximilian Tapada, menggelar diskusi publik mengenai program pengendalian inflasi di Pusat Jajanan Kuliner dan Cendramata (PJKC), area Zeropoint, Jumat (30/10/2026).

Diskusi tersebut menyoroti langkah Pemkab Minut menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, khususnya cabai merah atau rica merah, di tengah tekanan musim kemarau dan fenomena El Nino.

Kadis Tapada menjelaskan bahwa strategi pengendalian inflasi berangkat dari jaminan ketersediaan pasokan.

Menurutnya, pasokan rica merah saat ini tidak sepenuhnya dari produksi lokal, sehingga pemerintah harus memastikan distribusi dari daerah lain tetap lancar.

“Puji syukur sampai saat ini tidak ada masyarakat yang mengeluh bahwa kekurangan rica di pasar, yang ada hanyalah keluhan karena harganya naik,” ujar Tapada.

Tapada menegaskan, rica merah tetap tersedia di sejumlah pasar utama Minut, seperti Pasar Airmadidi, Kema, Kauditan, Sukur, dan Likupang.

Ketersediaan itu juga tercermin dari aktivitas rumah makan yang terus tumbuh dan menarik pengunjung dari Manado dan Bitung.

Namun, pertumbuhan sektor kuliner tersebut juga meningkatkan permintaan kebutuhan pokok, termasuk cabai.

Kondisi ini membuat pengendalian harga semakin penting, terlebih harga rica merah sempat menembus Rp140 ribu per kilogram hingga mendorong Pemkab Minut menyiapkan subsidi sampai Desember.

Terkait produksi, Tapada menyebut musim kemarau akibat El Nino dan pemanasan global sebagai ancaman serius yang dapat menekan pertumbuhan tanaman dan meningkatkan risiko gagal panen.

Karena itu, pihaknya akan menyampaikan masukan kepada Dinas Pertanian sebagai penopang sektor produksi agar persepsi dan koordinasi tetap terjaga, baik di musim kemarau maupun musim hujan.

Upaya tersebut menjadi penting karena inflasi Minut pada September 2026 tercatat 9,05 persen secara tahunan (year-on-year) dan 5,5 persen secara bulanan (month-to-month).

Cabai rawit menjadi pendorong inflasi terbesar dengan andil 3,20 persen, disusul tomat 0,62 persen dan terong 0,37 persen.

Pemkab Minut sendiri telah memperkuat langkah pengendalian melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), termasuk optimalisasi operasi pasar dan pendorongan produktivitas petani lokal.

Melalui diskusi bersama PROWM, Pemkab Minut berharap masyarakat memahami bahwa penanganan inflasi bukan hanya soal menekan harga, melainkan menjaga ketersediaan pangan, memperkuat rantai pasok, dan membangun ketahanan produksi lokal di tengah perubahan iklim.

(Ekin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *