Reses Komisi IV DPR RI di Minut, Bupati Joune Ganda Dukung Peternakan Babi Modern Terintegrasi Pertama di Indonesia

Minut922 Dilihat

Global1news.com, MINUT – Kunjungan kerja reses pimpinan dan anggota Komisi IV DPR RI di PT Sulawesi Optima Wirakarya (PT SOW), Desa Batu, Kecamatan Likupang Selatan, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) menjadi momentum melihat langsung pengembangan peternakan babi modern terintegrasi, Jumat (09/10/2026).

Bupati Minut Dr. Joune J.E. Ganda, SE, MAP, MM, M.Si, menyambut langsung rombongan, didampingi Asisten II, Kadis Pertanian, Kadis Kelautan dan Perikanan, Kadis Lingkungan Hidup, dan Camat Likupang Selatan.

Bupati menjelaskan, kunjungan tersebut bertujuan melihat operasional peternakan modern yang dinilai pertama di Indonesia dengan dukungan genetika unggul.

“Pada hari ini pimpinan dan anggota DPR RI dari Komisi IV melaksanakan kunjungan kerja reses ke PT SOW di Desa Batu. Kunjungan ini untuk melihat secara langsung peternakan babi modern terintegrasi,” ucap Bupati Joune Ganda.

Ia mengapresiasi Direktur PT SOW Andreas Surja Putra yang menghadirkan sistem modern di Minut, yang menurut Bupati prospeknya menjanjikan, mengingat konsumsi daging babi di Sulut dan Indonesia bagian utara tergolong tinggi.

Dengan adanya PT SOW, pasokan indukan unggul maupun daging potong diharapkan semakin terjamin.

Bupati juga menekankan pentingnya kemitraan dengan peternak lokal, akademisi, dan ahli kesehatan hewan agar manfaat ekonomi dirasakan masyarakat.

“Perusahaan ini membangun kemitraan dengan peternak masyarakat, akademisi, dan para ahli. Ekosistem peternakan bisa terbentuk dan memberikan manfaat bagi daerah dan masyarakat,” ujar Bupati.

Sementara itu, Direktur PT SOW Andreas Surja Putra menjelaskan keunggulan sistem closed house atau kandang tertutup yang mampu mengatur suhu dan kelembapan agar ternak tumbuh optimal.

“Paling sederhana, sistem kami menggunakan closed house seperti peternakan ayam modern, dimana suhu dan kelembapan kami atur agar hewan ternak mendapatkan lingkungan yang optimal untuk berkembang biak,” tutur Andreas.

Ternak yang dikembangkan berjenis pure breed atau jalur murni yang membutuhkan penanganan khusus, dan kapasitas produksi PT SOW sekitar 7.000 hingga 8.000 ekor.

Ternak yang memenuhi kualifikasi akan menjadi calon indukan, sedangkan yang tidak akan diarahkan untuk daging potong.

Andreas menegaskan prioritas perusahaan saat ini adalah penyediaan calon indukan bagi peternak di Sulut agar mendapat akses genetika terbaru.

Karena menggunakan genetika baru, PT SOW akan terus melakukan edukasi dan seminar bagi peternak terkait manajemen dan penyesuaian fasilitas kandang.

“Kami akan fokus terlebih dahulu di Minahasa Utara. Dengan dukungan pemerintah daerah, apa yang kami lakukan bisa menjadi contoh bagi wilayah lain, termasuk langkah preventif terhadap penyakit ternak,” kata Andreas.

Kehadiran peternakan modern terintegrasi di Desa Batu diharapkan menjadi model pengembangan peternakan berkelanjutan yang memperkuat produktivitas, ekonomi masyarakat, dan ketahanan pangan di Sulawesi Utara.

(Ekin)