Kasus Dugaan Trafficking Anak Dibawah Umur Asal Wori ke Papua Telah Dilaporkan DP3A Minut ke Polda Sulut

Minut, Sulut904 Dilihat

Global1news.com, MINUT — Kasus dugaan trafficking anak dibawah umur yang berasal dari Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ke Provinsi Papua, kini sudah dilaporkan ke Polda Sulut.

Korbannya adalah seorang gadis yang berusia 15 tahun dan masih bersekolah di Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Prov. Sulut.

Kepala Dinas P3A Minut Sri Hesti Hebber menyampaikan bahwa korban telah diamankan dan saat ini ditangani langsung oleh UPTD Provinsi Sulawesi Utara.

Hebber mengatakan bahwa DP3A Minut telah berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Sulawesi Utara.

Sri Hesti Hebber memastikan bahwa meskipun penanganan utama kini berada di tingkat provinsi, DP3A Minut tetap aktif melakukan pendampingan dan koordinasi.

“Kasus ini sudah ditangani oleh UPTD Provinsi, termasuk pendampingan psikologis, dan Tim kami, dua Kepala Bidang di Dinas P3A, dua orang konselor satu diantaranya psikolog sudah melakukan langkah dan upaya pendampingan,” ucapnya.

“Kami telah membuat laporan resmi ke Polda Sulawesi Utara dan saat ini sedang menunggu salinan administrasi dari UPTD Provinsi sebagai bagian dari proses hukum,” ujar Hebber.

DP3A Kab. Minut bersama UPTD Prov. Sulut berencana turun ke desa-desa untuk memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, baik melalui sekolah maupun pemerintah desa.

Dari kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya perhatian dan tindakan dini dalam mencegah perdagangan manusia, terutama anak-anak.

Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak.

Penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu perdagangan anak, serta bekerja sama demi perlindungan hak-hak anak yang harus dijaga.

Penanganan cepat dan tepat dari berbagai instansi merupakan langkah awal yang positif untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

“Kami tidak hanya berfokus pada penanganan korban tetapi juga pencegahan, untuk itu kami akan melakukan edukasi kepada masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang,” tutur Hebber.

(Ekin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *