Harga Cabai Tembus Rp140 Ribu, Pemkab Minut Gelar Gerakan Pangan Murah di Pasar Airmadidi

Minut575 Dilihat

Global1news.com, MINUT – Harga cabai yang melonjak jadi perhatian Pemkab Minahasa Utara dan untuk menjaga daya beli warga, pemerintah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Pasar Airmadidi, Sabtu (10/10/2026).

Kegiatan dihadiri Sekda Minut Ir. Novly Wowiling, M.Si, didampingi Asisten II Robby Parengkuan, Asisten III Jossy Kawengian, Kadis Pangan Asriyadi Lalompoh, Kadis Perdagangan Maximilian Tapada, Kasatpol PP, Direktur PUD Klabat, Kabag Perekonomian, Camat Airmadidi dan Lurah Sarongsong I.

Pemkab menyiapkan 150 kupon untuk pembelian cabai rawit dan 200 sak beras.

Sekda Novly mengatakan GPM adalah respons atas lonjakan harga rica di pasaran.

“Setelah kita cermati, harga cabai di pasaran melonjak tinggi, untuk itu fungsi pemerintah hadir memberi solusi,” kata Sekda Novly Wowiling.

Di pasaran harga rica Rp110.000 hingga Rp140.000/kg, melalui GPM Pemkab Minut jual Rp90.000/kg.

“Pemerintah hadir memberikan alternatif harga lebih murah. Kami berharap ini beri kelegaan bagi masyarakat,” ujarnya.

Sekda menegaskan, intervensi pasar akan dilanjutkan hingga Desember 2026 dengan evaluasi berkala, jika terbukti menormalkan harga, program akan terus dilanjutkan.

Ia mengakui stok cabai terbatas bukan hanya di Minut, tapi hampir di seluruh daerah akibat iklim dan cuaca panas ekstrem.

“Berapa pun jumlah yang bisa kita dapatkan dari petani, tetap akan kita upayakan untuk masyarakat,” tutur Sekda.

Selain GPM, Pemkab juga akan menggandeng pasar modern dan supermarket lewat skema subsidi harga ke pedagang dan PUD Klabat agar harga jual di bawah pasar.

“Intervensi bukan hanya harga, tapi juga dari sisi budidaya,” tambah Sekda.

Saat ini Pemkab menyiapkan kebun percontohan (demplot) cabai yang sudah berumur 10 bulan lebih dan lebih dari 100 kg bibit dalam polybag.

Para camat juga didorong menggerakkan warga menanam cabai di polybag untuk menghadapi krisis air akibat cuaca panas.

“Ini langkah terpadu untuk menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, dan mengurangi dampak kenaikan harga pangan,” tutup Sekda Novly Wowiling.

(Ekin)